NAWA SAMADHI DALAM KAWRUH SEJATI

nawa samadhi dalam kawruh sejati
Kesadaran Jiwa sebagai Dasar Pendalaman Samadhi

Dalam perspektif Kawruh Sejati, perjalanan manusia tidak hanya berkaitan dengan kehidupan raga dan pengalaman duniawi. Di dalam diri manusia terdapat Jiwa yang menjadi daya kehidupan rohani, sedangkan kesadaran berkembang melalui Jiwa dan menjadi jalan bagi manusia untuk memahami kehidupan secara lebih mendalam.

Dari sudut pandang tersebut, Nawa Samadhi Uttamopadesa dapat dipahami sebagai perjalanan pendalaman kesadaran. Samadhi bukan sekadar keadaan diam atau kegiatan menyendiri, tetapi proses ketika manusia semakin mampu melihat, memahami, dan menata kehidupan dari dalam dirinya.

Pemahaman ini memiliki hubungan erat dengan Nawa Waspadaning Jiwa, yaitu sembilan tahap kewaspadaan atau perkembangan kesadaran Jiwa.

Nawa Waspadaning Jiwa bukan sekadar sembilan keadaan pikiran. Waspada menunjuk pada kemampuan kesadaran untuk tidak mudah dikuasai oleh dorongan yang muncul dalam diri maupun pengaruh dari luar.

Jiwa dan Kesadaran.
Dalam kerangka Kawruh Sejati, Jiwa tidak dapat disamakan dengan pikiran.

Pikiran dapat berubah mengikuti pengalaman. Perasaan juga dapat berubah mengikuti keadaan. Keinginan dapat berubah sesuai kebutuhan dan lingkungan. Namun, Jiwa merupakan daya kehidupan rohani yang menjadi dasar keberadaan manusia.

Dari Jiwa tumbuh kesadaran yang memungkinkan manusia mengenali apa yang sedang terjadi dalam dirinya. Karena itu, perjalanan samadhi tidak dimaksudkan untuk mematikan kesadaran. Sebaliknya, samadhi justru mengarah pada kesadaran yang semakin utuh.

Manusia mulai menyadari bahwa tidak setiap pikiran harus diikuti, tidak setiap perasaan harus diwujudkan, dan tidak setiap keinginan harus dilaksanakan. Kesadaran mulai mampu melihat sebelum bertindak. Inilah salah satu dasar penting kewaspadaan Jiwa.

Dari Panarik Menuju Waspada.
Tahap Samadhi Panarik dapat dipahami sebagai awal pelepasan keterikatan.

Manusia mulai menyadari bahwa pancaindra membawa berbagai pengalaman ke dalam kehidupan. Keinginan muncul, kesenangan muncul, ketidaksukaan muncul, dan berbagai dorongan bergerak di dalam diri. Jika kesadaran tidak waspada, cipta mudah terseret oleh semuanya.

Karena itu, panarik bukan berarti menolak dunia. Manusia tetap menjalani kehidupan, tetapi tidak membiarkan dunia menjadi penguasa dirinya.

Di sini kesadaran mulai belajar berkata bahwa sesuatu boleh diketahui tanpa harus dimiliki, sesuatu boleh dirasakan tanpa harus dikejar, dan sesuatu boleh tidak disukai tanpa harus dibenci. Waspada tumbuh ketika manusia mampu melihat keterikatan tersebut.

Pamawas sebagai Latihan Kesadaran.
Setelah keterikatan mulai dikenali, manusia memasuki keadaan Samadhi Pamawas. Pamawas berarti melihat keadaan diri dengan lebih jernih.

Kesadaran mulai memperhatikan bagaimana kemarahan muncul, bagaimana kesombongan terbentuk, bagaimana iri hati berkembang, dan bagaimana pamrih memengaruhi keputusan. Hal ini berbeda dari kebiasaan menghakimi diri sendiri.

Pamawas bukan mengatakan bahwa setiap dorongan yang muncul adalah sesuatu yang buruk. Pamawas terlebih dahulu melihatnya.
Dengan melihat, manusia memperoleh kesempatan untuk memilih.

Inilah salah satu fungsi kesadaran dalam kehidupan, yaitu memberikan ruang antara dorongan dan tindakan.

Semakin waspada kesadaran, semakin besar kemampuan manusia menentukan tindakannya secara sadar.

Wening dan Perkembangan Kesadaran.
Samadhi Wening merupakan perkembangan berikutnya. Ketika manusia semakin mampu mengamati dirinya, cipta tidak lagi mudah dipenuhi oleh berbagai dorongan yang saling bertentangan.

Wening bukan berarti tidak mempunyai pikiran. Wening berarti pikiran tidak lagi menjadi penguasa mutlak.

Manusia masih berpikir, tetapi mampu melihat pikirannya. Manusia masih merasakan, tetapi tidak selalu menjadi budak perasaannya. Manusia masih memiliki kehendak, tetapi mulai mempertimbangkan arah kehendak tersebut.

Kesadaran yang demikian menunjukkan perkembangan kewaspadaan Jiwa.

Tentrem sebagai Kesadaran yang Stabil.
Pada Samadhi Tentrem, kesadaran mulai memperoleh kestabilan. Ketenteraman tidak berarti kehidupan bebas dari masalah.

Masalah tetap ada, tetapi manusia tidak selalu kehilangan arah ketika menghadapinya.

Ketika mendapat pujian, ia tidak langsung menjadi sombong. Ketika mendapat kritik, ia tidak langsung menjadi marah. Ketika mengalami kegagalan, ia tidak langsung menganggap kehidupannya tidak berarti.

Kesadaran mampu tetap melihat keadaan secara lebih utuh. Dengan demikian, tentrem merupakan bentuk kewaspadaan yang semakin matang.

Kawruh dan Pangrasa.
Perjalanan kemudian bergerak menuju Samadhi Kawruh dan Samadhi Pangrasa.

Pada Samadhi Kawruh, manusia mulai memahami kehidupan secara lebih mendalam. Namun pemahaman tersebut belum cukup jika hanya berhenti sebagai pengetahuan. Karena itu, perjalanan dilanjutkan melalui Pangrasa.

Apa yang dipahami mulai dihayati. Pengetahuan tentang ketulusan mulai menjadi ketulusan. Pengetahuan tentang kesabaran mulai menjadi kesabaran. Pengetahuan tentang kebijaksanaan mulai terlihat dalam keputusan. Pada titik ini, kesadaran tidak lagi terpisah dari kehidupan.

Pepadhang dan Kesadaran yang Menuntun.
Samadhi Pepadhang menggambarkan keadaan ketika kesadaran semakin mampu menjadi penerang bagi kehidupan.

Pepadhang bukan cahaya yang dilihat oleh mata. Ia merupakan kejernihan yang membantu manusia memahami sesuatu secara lebih tepat. Kesadaran tidak mudah dipengaruhi oleh prasangka.

Perbedaan tidak langsung dianggap sebagai ancaman. Pengetahuan tidak digunakan untuk merendahkan orang lain. Keberhasilan tidak dijadikan alasan untuk merasa lebih tinggi. Kesadaran mulai berfungsi sebagai penuntun laku.

Suci dan Sampurna.
Pada Samadhi Suci, kesadaran berhadapan dengan bentuk keterikatan yang lebih halus, yaitu pamrih batin.

Keinginan untuk dipuji, dianggap bijaksana, dianggap paling benar, atau dianggap paling memahami kebenaran juga perlu dikenali.

Semakin waspada Jiwa, semakin mudah manusia melihat pamrih tersebut.

Kemudian perjalanan menuju Samadhi Sampurna bukan berarti manusia menjadi sempurna dalam arti tidak pernah salah. Sampurna menunjuk pada semakin utuhnya keselarasan kehidupan.

Cipta menjadi wening. Rasa menjadi tulus. Karsa menjadi utama. Kesadaran semakin mampu mengikuti tuntunan menuju kebaikan.

Hubungan Nawa Samadhi dan Nawa Waspadaning Jiwa.
Nawa Samadhi dan Nawa Waspadaning Jiwa dapat dipandang sebagai dua sudut pandang yang saling menerangi.

Nawa Samadhi menggambarkan pendalaman keadaan samadhi. Nawa Waspadaning Jiwa menekankan perkembangan kewaspadaan kesadaran. Keduanya bertemu dalam satu arah: manusia semakin mampu melihat dirinya, memahami kehidupannya, dan mewujudkan pemahaman tersebut dalam laku.

Dengan demikian, samadhi bukan pelarian dari kehidupan. Samadhi merupakan pendalaman kesadaran yang justru membuat manusia semakin hadir dalam kehidupan.

Penutup.
Dalam Kawruh Sejati, kesadaran tidak dimaksudkan sebagai sesuatu yang hanya dibicarakan.

Kesadaran harus berkembang menjadi kewaspadaan, kewaspadaan menjadi pemahaman, pemahaman menjadi penghayatan, dan penghayatan diwujudkan dalam laku.

Nawa Samadhi menjadi salah satu kerangka untuk memahami perjalanan tersebut.
Semakin dalam samadhi, semakin jernih cipta, semakin tulus rasa, semakin utama karsa, dan semakin sadar manusia terhadap arah kehidupannya.

FAQ - Nawa Samadhi Dalam Kawruh Sejati.

1. Apa hubungan Nawa Samadhi dengan Nawa Waspadaning Jiwa?
Keduanya berkaitan dengan pendalaman kesadaran. Nawa Samadhi menekankan perjalanan samadhi, sedangkan Nawa Waspadaning Jiwa menekankan kewaspadaan kesadaran Jiwa.

2. Apakah kesadaran sama dengan Jiwa?
Tidak. Jiwa merupakan daya kehidupan rohani, sedangkan kesadaran berkembang melalui Jiwa dan menjadi kemampuan untuk memahami kehidupan.

3. Apakah samadhi berarti kehilangan kesadaran?
Tidak. Dalam kerangka Uttamopadesa, samadhi justru mengarah pada kesadaran yang semakin utuh.

4. Apa fungsi pamawas?
Pamawas membantu manusia mengamati gerak cipta, rasa, dan karsa sebelum mengikuti dorongan tersebut dalam tindakan.

5. Mengapa kesadaran harus diwujudkan dalam laku?
Karena pemahaman yang tidak diwujudkan dalam kehidupan belum menunjukkan perubahan yang nyata.

6. Apa tujuan akhir perjalanan kesadaran?
Tujuannya adalah semakin utuhnya keselarasan cipta, rasa, karsa, dan kehidupan dengan Tatananing Panguripan.

Komentar