KAWRUH SEJATI

kawruh jatining panguripan janma manusa
KAWRUH JATINING PANGURIPAN JANMA MANUSA
Dasar pemikiran ... BUKA

Kawruh Jatining Panguripan Janma Manusa adalah pengetahuan untuk memahami hakikat kehidupan manusia, sumber daya kehidupan, kedudukan manusia, serta hubungan antara cipta, rasa, karsa, dan laku kehidupan.

- Lestari Uttamopadesa -

Pembuka.
Setiap janma manusa berada di dalam siklus kehidupan. Lahir, tumbuh, mengalami berbagai macam perjalanan, kemudian menjadi tua dan sampai pada batas kehidupan raga. Namun, kehidupan bukan hanya persoalan bergeraknya raga, bernapas, makan, bekerja, berpikir, merasakan, dan bertindak. Di dalam semua itu terdapat sesuatu yang lebih mendalam, yaitu jatining panguripan.

Jatining Panguripan tidak hanya bertanya, “bagaimana manusia hidup?”, tetapi lebih dalam lagi: “Apa sejatinya yang ada dalam diri janma manusa, dari mana daya kehidupan itu berasal, dan untuk apa kehidupan harus dijalani?”

Kawruh Jatining Panguripan Janma Manusa merupakan kawruh untuk memahami kehidupan secara lebih jernih. Kawruh ini tidak hanya membahas siapa manusia, tetapi juga mempelajari hubungan antara Sang Sumber Panguripan, Prabhawaning Panguripan, Jatining Panguripan, Prana atau Dayaning Panguripan, Panguripan, dan janma manusa itu sendiri.

Janma manusa tidak menciptakan kehidupan atas kehendaknya sendiri. Janma manusa hanya menerima kehidupan, menjalani kehidupan, memahami kehidupan, dan menjaga kehidupan yang telah ada.

Kehidupan Telah Ada Sebelum Manusia Memahaminya.
Salah satu awal dari kawruh adalah menyadari bahwa kehidupan telah ada sebelum janma manusa mampu memahami apa pun.

Ketika janma belum mampu berpikir, kehidupan telah berlangsung. Ketika janma belum mampu menyebut nama dirinya sendiri, daya kehidupan telah menyatu dengan raganya. Pernapasan, pertumbuhan raga, peredaran darah, dan berbagai proses kehidupan tidak dimulai dari pemahaman pikiran.

Hal ini menunjukkan bahwa kehidupan bukan hasil ciptaan pikiran janma.

Pikiran hanya merupakan salah satu sarana untuk memahami. Cipta tidak menciptakan kehidupan, tetapi berusaha memahami kehidupan. Rasa tidak menimbulkan kehidupan, tetapi merasakan perjalanan kehidupan. Karsa tidak menciptakan kehidupan, tetapi mengarahkan tindakan di dalam kehidupan.

Karena itu, janma manusa harus mampu membedakan antara kehidupan sebagai kenyataan dan pemahaman janma terhadap kehidupan.

Sang Sumber Panguripan sebagai Sumber Kehidupan.
Dalam kawruh Uttamopadesa, kehidupan tidak dipahami sebagai sesuatu yang muncul begitu saja tanpa dasar. Ada Sang Sumber Panguripan yang menjadi sumber kehidupan.

Sang Sumber Panguripan tidak dapat disamakan dengan benda, tempat, bentuk, atau objek yang dapat ditangkap oleh pikiran. Sang Sumber Panguripan bukan sesuatu yang berada sebagai benda di dalam tubuh manusia.

Pemahaman ini penting agar janma tidak keliru menempatkan Sang Sumber Panguripan sebagai bagian dari raga atau sebagai suatu bentuk yang dapat dibayangkan oleh pikiran.

Sang Sumber Panguripan merupakan sumber dari adanya kehidupan. Dari sini janma memahami bahwa kehidupan bukan milik pribadi yang dapat diklaim sesuka hati.

Kehidupan adalah anugerah pemberian dari Sang Sumber Panguripan.

Karena itu, kehidupan perlu diterima dengan rasa syukur dan dijalani dengan tanggung jawab.

Prabhawaning Panguripan.
Dari Sang Sumber Panguripan dapat dipahami adanya Prabhawaning Panguripan, yaitu kawruh mengenai asal, daya, dan tatanan yang membuat kehidupan ini dapat berlangsung.

Prabhawaning Panguripan menjadi landasan untuk melihat kehidupan secara runtut. Janma manusa tidak hanya bertanya mengenai dirinya sendiri, tetapi juga melihat bagaimana kehidupan berlangsung, bagaimana daya kehidupan bekerja, dan bagaimana manusia berada di dalam tatanan tersebut.

Dengan demikian, kawruh mengenai janma manusa tidak dapat dipisahkan dari kawruh mengenai kehidupan, sebab janma manusa merupakan bagian dari kehidupan, bukan kehidupan itu sendiri.

Jatining Panguripan.
Jatining Panguripan menunjuk pada inti atau kenyataan terdalam dari kehidupan yang perlu dipahami oleh janma manusa.

Jatining Panguripan tidak berarti suatu bentuk atau tokoh yang tinggal di dalam tubuh. Dalam pemahaman Uttamopadesa, Jatining Panguripan berkaitan dengan Guru Sejati, tetapi Guru Sejati bukan tokoh, bukan seseorang yang tinggal di dalam raga, dan bukan Jiwa.

Guru Sejati lebih tepat dipahami sebagai Penuntun menuju Kawruh Sejati, dan dikenal dengan sebutan Kawruhanta Acarya, yang menuntun janma agar tidak tersesat oleh cipta yang belum wening, rasa yang belum tulus, dan karsa yang masih terikat oleh pamrih.

Karena itu, Jatining Panguripan tidak harus dicari di luar dengan mencari suatu bentuk tertentu. Yang perlu dilakukan adalah membangun kawruh dan laku agar janma dapat semakin jelas memahami kenyataan kehidupan.

Jiwa, Sukma, dan Raga.
Kawruh Jatining Panguripan Janma Manusa juga menjelaskan pembedaan antara Jiwa, Sukma, dan Raga.

Raga merupakan wahana untuk menjalani kehidupan. Raga dapat tumbuh, berubah, mengalami berbagai keadaan, menjadi tua, dan akhirnya sampai pada batasnya.

Jiwa tidak sama dengan Cipta, Rasa, dan Karsa. Cipta, Rasa, dan Karsa merupakan daya yang berkaitan dengan kehidupan janma manusa, sedangkan Jiwa memiliki pengertian tersendiri dalam tatanan kawruh Uttamopadesa.

Sukma dapat dipahami sebagai tempat atau lingkungan batin bagi Jiwa bersama Cipta, Rasa, dan Karsa.

Pembedaan ini penting agar janma manusa tidak mencampurkan seluruh persoalan batin menjadi satu pengertian. Jika segala sesuatu disebut pikiran atau segala sesuatu disebut jiwa, kawruh akan menjadi kabur.

Prana atau Dayaning Panguripan.
Kehidupan tidak hanya terlihat dari keberadaan raga. Ada Prana atau Dayaning Panguripan yang membuat kehidupan dapat berlangsung.

Prana tidak perlu dibayangkan sebagai benda yang dapat diambil atau disimpan. Prana lebih tepat dipahami sebagai daya kehidupan yang menghidupkan dan memungkinkan proses kehidupan berlangsung.

Dengan memahami hal ini, janma dapat semakin menyadari bahwa dirinya tidak menguasai seluruh hal yang terjadi di dalam tubuhnya.

Ada banyak proses yang berlangsung tanpa perintah dari pikiran. Jantung bekerja, pernapasan berlangsung, tubuh tumbuh dan memperbaiki bagian yang mengalami kerusakan. Semua itu menjadi pengingat bahwa janma memiliki keterbatasan.
Merasa memiliki kehidupan tidak berarti menjadi penguasa atas kehidupan.

Cipta, Rasa, dan Karsa sebagai Tridaya Janma Manusa.
Di dalam kehidupan janma manusa terdapat Cipta, Rasa, dan Karsa yang menjadi tiga daya penting dalam menjalani kehidupan.

Cipta berkaitan dengan kemampuan memahami, mempertimbangkan, menggagas, dan membentuk pengertian.

Rasa berkaitan dengan kemampuan merasakan, mengalami, dan memahami kedalaman batin dari suatu perjalanan kehidupan.

Karsa berkaitan dengan daya keinginan, kehendak, niat, dan arah tindakan.
Ketiganya tidak dapat dipisahkan dari laku.

Cipta yang jelas tetapi tidak diwujudkan hanya menjadi pemahaman. Rasa yang mendalam tetapi tidak mengubah tindakan dapat berhenti sebagai pengalaman batin. Karsa yang kuat tetapi tidak dituntun oleh cipta dan rasa dapat melahirkan tindakan yang tidak selaras.

Karena itu, kawruh sejati harus tampak dalam keselarasan Cipta, Rasa, dan Karsa.

Cetana dan Prabodha.
Janma manusa tidak hanya memiliki kemampuan untuk berpikir dan merasakan, tetapi juga memiliki Cetana, yaitu kesadaran.

Cetana dapat terikat oleh pamrih, keinginan, ketakutan, angan-angan, pandangan terhadap diri sendiri, dan berbagai macam kotoran batin. Ketika cetana terikat, janma dapat melihat kenyataan secara tidak utuh.

Sebaliknya, Prabodha menunjukkan kesadaran yang telah terbangun dan menjadi lebih wening.

Prabodha bukan sekadar mengetahui banyak hal. Janma dapat memiliki banyak kawruh tetapi tetap terikat oleh pamrih. Karena itu, terbangunnya cetana harus terlihat dari perubahan cara memandang dan cara bertindak.

Kawruh harus membuat janma menjadi lebih wening, lebih sederhana, lebih rendah hati, dan semakin mampu memahami keterbatasan dirinya.

9. Kawruh Sejati dan Kawruh Kasunyatan.
Dalam hal ini perlu dibedakan antara Kawruh Sejati dan Kawruh Kasunyatan.

Kawruh Sejati merupakan pepadhang yang menjadi dasar bagi pemahaman, sedangkan Kawruh Kasunyatan merupakan pemahaman janma terhadap kenyataan yang ditemui dalam kehidupan.

Janma tidak boleh menganggap pemahaman pribadinya sama dengan Kawruh Sejati. Pemahaman manusia selalu memiliki keterbatasan.

Karena itu, Kawruh Kasunyatan perlu diuji melalui tiga dasar: ontologi, epistemologi, dan aksiologi, kemudian diwujudkan dalam laku.

Apa yang diyakini ada harus dapat diterangkan dengan jelas.

Apa yang disebut kawruh harus dapat dipahami dari bagaimana kawruh tersebut diketahui.

Dan apa yang disebut baik harus terlihat dalam kehidupan, bukan hanya terdapat dalam ucapan.

Jatining Panguripan Tampak dalam Laku.
Kawruh Jatining Panguripan tidak selesai ketika janma telah mampu menjelaskan Sang Sumber Panguripan, Jiwa, Sukma, Raga, Cetana, Cipta, Rasa, dan Karsa.

Kawruh tersebut harus turun menjadi laku.

Janma yang mulai memahami Jatining Panguripan akan lebih berhati-hati dalam menggunakan Cipta, lebih tulus dalam mengolah Rasa, dan lebih bersih dalam mengarahkan Karsa.

Hal itu dapat terlihat dalam tindakan sehari-hari: tidak membanggakan kawruh, tidak mengandalkan nalar yang kumingsun, tidak mudah menghakimi, tidak menipu diri sendiri, tidak mengejar pamrih secara buta, serta mau mengakui keterbatasan kehidupan.

Dengan demikian, tanda kawruh bukan sekadar banyaknya kata yang dapat diucapkan, melainkan perubahan laku.

Keterbatasan Janma Manusa
Janma memiliki Cipta, Rasa, dan Karsa, tetapi semuanya memiliki batas.

Cipta tidak dapat memahami segala sesuatu.
Rasa tidak dapat merasakan segala sesuatu.
Karsa tidak dapat mencapai segala sesuatu yang diinginkan.
Raga juga memiliki batas.

Pemahaman terhadap keterbatasan ini bukan untuk merendahkan janma manusa, melainkan agar janma tidak menjadi kumingsun dan tidak menganggap dirinya sebagai pusat dari seluruh kenyataan.

Ketika janma memahami batas, tumbuh sikap rendah hati yang tidak dibuat-buat.
Hal ini merupakan salah satu tanda penting dari kawruh.

Jatining Panguripan sebagai Dasar Lampahan
Jika janma telah mulai memahami Jatining Panguripan, kemudian muncul pertanyaan berikutnya: bagaimana kehidupan ini harus dijalani?

Di sinilah kawruh mulai berubah menjadi lampahan.

Janma tidak hanya hidup untuk memenuhi keinginan pribadi, tetapi belajar agar Cipta, Rasa, dan Karsa dapat berjalan selaras dengan kenyataan kehidupan.

Manembah, rendah hati, sederhana dalam tindakan, membersihkan Cipta, memurnikan Rasa, meninggikan Karsa, mengurangi pamrih, dan menyadari keterbatasan kehidupan menjadi bagian dari laku untuk mencapai kejernihan hidup.

Dengan demikian, Jatining Panguripan bukan akhir dari pertanyaan, tetapi menjadi dasar bagi lampahan.

Penutup.
Kawruh Jatining Panguripan Janma Manusa mengajarkan bahwa janma manusa perlu mampu membedakan antara raga dan kehidupan, antara pemahaman dan kenyataan, antara Cipta dan Kawruh Sejati, serta antara keinginan pribadi dan tatanan kehidupan yang lebih luas.

Kehidupan telah ada sebelum janma mampu memahaminya. Janma kemudian menerima kehidupan, hidup di dalam kehidupan, dan memiliki kesempatan untuk memahami apa yang dijalaninya.

Dari Sang Sumber Panguripan, janma memahami Prabhawaning Panguripan; dari sana janma mendalami pemahaman mengenai Jatining Panguripan; kemudian memahami Prana atau Dayaning Panguripan, Panguripan, dan akhirnya Panguripan Janma Manusa sebagai tempat menjalani kehidupan.

Dalam perjalanan tersebut, Guru Sejati tidak perlu dicari sebagai suatu tokohmanusiawi. Yang perlu dicari adalah pepadhang atau ajaran kawruh yang menuntun janma agar mampu memahami dengan lebih wening.

Pada akhirnya, ukuran kawruh tidak terletak pada banyaknya kata yang dapat diucapkan, melainkan pada sejauh mana kawruh tersebut telah menjadi laku.

Kawruh harus dikawruhi, harus kasumurupan, harus dilakoni, dan harus menjadi kasunyatan dalam kehidupan.

Dengan demikian, janma manusa tidak hanya mengetahui bahwa dirinya hidup, tetapi mulai memahami apa arti kehidupan dan bagaimana kehidupan harus dijalani dengan wening, tulus, dan sederhana.

FAQ Kawruh Jatining Panguripan Janma Manusa.
1. Apa yang dimaksud dengan Kawruh Jatining Panguripan Janma Manusa?
Kawruh Jatining Panguripan Janma Manusa adalah pengetahuan untuk memahami hakikat kehidupan manusia, sumber daya kehidupan, kedudukan manusia, serta hubungan antara cipta, rasa, karsa, dan laku kehidupan.

2. Apa hubungan Jatining Panguripan dengan Sang Sumber Panguripan?
Sang Sumber Panguripan merupakan sumber dari adanya kehidupan, sedangkan Jatining Panguripan mengarah pada pemahaman mengenai hakikat terdalam dari kehidupan yang dijalani oleh janma manusa.

3. Apakah Jatining Panguripan sama dengan Jiwa?
Tidak. Dalam Uttamopadesa, Jatining Panguripan tidak disamakan dengan Jiwa. Jiwa, Sukma, Raga, Cetana, serta Cipta, Rasa, dan Karsa memiliki kedudukan dan pengertian masing-masing.

4. Apa peran Cipta, Rasa, dan Karsa dalam kehidupan janma manusa?
Cipta merupakan daya untuk memahami dan mempertimbangkan, Rasa merupakan daya untuk merasakan dan menghayati, sedangkan Karsa merupakan daya keinginan dan pengarah tindakan. Ketiganya perlu berjalan secara selaras.

5. Apa hubungan Kawruh Sejati dengan Jatining Panguripan?
Kawruh Sejati merupakan pepadhang dalam memahami kasunyatan, sedangkan pemahaman mengenai Jatining Panguripan membantu janma manusa mengenali hakikat kehidupan dan kedudukannya di dalam kehidupan tersebut.

6. Mengapa Kawruh Jatining Panguripan harus diwujudkan dalam laku?
Karena kawruh tidak cukup hanya dipahami secara pikiran. Kawruh harus diwujudkan dalam tindakan agar pemahaman mengenai kehidupan benar-benar menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.

7. Apa tanda bahwa seseorang mulai memahami Jatining Panguripan?
Tandanya dapat terlihat dari cipta yang semakin wening, rasa yang semakin tulus, karsa yang semakin bersih, tindakan yang semakin sederhana, sikap rendah hati, serta kesadaran terhadap keterbatasan kehidupan manusia.

8. Apa tujuan mempelajari Kawruh Jatining Panguripan Janma Manusa?
Tujuannya adalah agar manusia tidak hanya mengetahui bahwa dirinya hidup, tetapi juga memahami hakikat kehidupannya dan mampu menjalani kehidupan dengan wening, tulus, sederhana, serta selaras.