Mengenali Cipta, Langkah Awal Memahami Diri dalam Kawruh Sejati
Ada sesuatu yang setiap saat bekerja dalam diri manusia, tetapi sering kali justru tidak dikenali: cipta.
Manusia berpikir, menilai, mengingat, membayangkan, menyimpulkan, merencanakan, bahkan menciptakan berbagai gambaran tentang dirinya sendiri.
Semua itu berlangsung melalui cipta. Namun karena cipta bekerja begitu dekat dengan kehidupan sehari-hari, manusia sering menganggap apa pun yang muncul dalam pikirannya sebagai kebenaran.
Di sinilah persoalan bermula.
Didalam uraian tentang Kawruh Sejati, telah diuraikan bahwa manusia memiliki Cipta, Rasa, dan Karsa, tetapi semuanya memiliki keterbatasan.
Cipta tidak dapat memahami segala sesuatu.
Rasa tidak dapat merasakan segala sesuatu.
Karsa tidak dapat mencapai segala sesuatu yang diinginkan.
Raga juga memiliki batas.
Pemahaman terhadap keterbatasan ini bukan untuk merendahkan janma manusa, melainkan agar janma tidak menjadi kumingsun dan tidak menganggap dirinya sebagai pusat dari seluruh kenyataan.
Cipta tidak dapat memahami segala sesuatu.
Rasa tidak dapat merasakan segala sesuatu.
Karsa tidak dapat mencapai segala sesuatu yang diinginkan.
Raga juga memiliki batas.
Pemahaman terhadap keterbatasan ini bukan untuk merendahkan janma manusa, melainkan agar janma tidak menjadi kumingsun dan tidak menganggap dirinya sebagai pusat dari seluruh kenyataan.
Dalam pandangan Kawruh Sejati, manusia perlu belajar mengenali cipta sebelum mampu memahami dirinya secara lebih jernih. Sedangkan dalam Kawruh Kasunyatan, pengenalan terhadap cipta menjadi bagian penting dari perjalanan untuk mengetahui mana yang benar-benar kasunyatan dan mana yang hanya merupakan hasil olah cipta.
Uttamopadesa menempatkan pengenalan, penyucian, dan perbaikan cipta sebagai bagian dari laku hidup manusia.
1. Apa Cipta Itu?
Cipta bukan sekadar "pikiran" dalam pengertian sempit.
Cipta adalah daya batin manusia yang digunakan untuk menangkap, mengolah, menghubungkan, menafsirkan, membayangkan, dan membentuk pengertian terhadap sesuatu.
Ketika seseorang melihat suatu peristiwa, yang dilihat oleh mata belum tentu sama dengan apa yang kemudian dipahami oleh cipta.
Misalnya seseorang tidak membalas sapaan kita.
Faktanya sederhana: ia tidak membalas sapaan.
Tetapi cipta dapat segera membuat berbagai kesimpulan:
"Dia tidak suka saya."
"Dia sombong."
"Dia sengaja mengabaikan saya."
Padahal semua kesimpulan tersebut belum tentu merupakan kenyataan.
Di sinilah kita mulai melihat bahwa cipta tidak selalu sama dengan kasunyatan.
Cipta dapat menerima kenyataan, tetapi cipta juga dapat menambahkan tafsir, dugaan, ingatan, keinginan, ketakutan, dan pengalaman masa lalu.
Karena itu, mengenali cipta berarti belajar melihat apa yang sebenarnya sedang berlangsung di dalam diri sebelum menganggapnya sebagai kebenaran.
Dalam kerangka Uttamopadesa, cipta merupakan bagian dari kehidupan batin yang perlu ditata bersama rasa dan karsa.
2. Kenapa Cipta Perlu Dikenali?
Karena manusia sering kali tidak menyadari bahwa dirinya sedang dipengaruhi oleh ciptanya sendiri.
Manusia merasa sedang melihat kenyataan, padahal yang dilihatnya mungkin sudah bercampur dengan penilaian cipta.
Contohnya sederhana.
Seseorang berkata kepada kita:
"Pendapatmu kurang tepat."
Cipta yang belum tertata dapat segera menerjemahkannya menjadi:
"Dia merendahkan saya."
Kemudian rasa menjadi tidak nyaman.
Setelah itu karsa dapat mendorong seseorang untuk membalas, menjauh, atau bahkan memusuhi.
Padahal kalimat awalnya hanya mengatakan bahwa pendapat kita dianggap kurang tepat.
Peristiwa → masuk ke dalam diri → diolah cipta → memengaruhi rasa → mendorong karsa → menjadi tindakan.
Karena itu, jika ingin memperbaiki laku hidup, manusia tidak cukup hanya mengendalikan tindakan yang sudah muncul.
Ia perlu mengenali sumber yang mendahuluinya.
Cipta perlu dikenali karena cipta dapat menjadi awal dari rasa dan tindakan.
Dalam pandangan Kawruh Kasunyatan, pengenalan ini penting agar manusia tidak terus-menerus hidup berdasarkan kesimpulan cipta yang belum diperiksa.
3. Bagaimana Cara atau Proses Mengenali Cipta?
Mengenali cipta bukan berarti menghentikan pikiran.
Justru langkah pertama adalah menyadari apa yang sedang muncul dalam diri.
Ketika sesuatu terjadi, jangan langsung percaya pada kesimpulan pertama yang muncul.
Perhatikan:
Apa yang sebenarnya terjadi?
Apa yang saya pikirkan tentang kejadian itu?
Apa yang saya rasakan setelah memikirkannya?
Apa yang ingin saya lakukan?
Di sinilah seseorang mulai dapat membedakan antara kejadian dan tafsir terhadap kejadian.
Misalnya:
Kejadian: seseorang tidak datang pada waktu yang dijanjikan.
Cipta: "Dia memang tidak menghargai saya."
Rasa: kecewa dan marah.
Karsa: ingin memutus hubungan.
Dengan pengenalan cipta, seseorang dapat berhenti sejenak dan melihat bahwa "dia tidak menghargai saya" bukanlah fakta yang langsung terlihat. Itu adalah kesimpulan cipta.
Mungkin benar, mungkin juga tidak.
Kesadaran semacam ini merupakan awal dari kejernihan.
Dalam laku Uttamopadesa, manusia tidak diajak untuk memusuhi cipta. Cipta bukan sesuatu yang harus dihancurkan. Cipta perlu dikenali, ditata, dan diperbaiki.
4. Apa Beda Cipta dengan Kawruh?
Cipta dan kawruh bukan hal yang sama.
Cipta adalah daya dalam diri yang mengolah pengalaman menjadi pengertian.
Sedangkan kawruh adalah pengetahuan atau pengertian yang diperoleh manusia mengenai sesuatu hal tertentu.
Cipta dapat menghasilkan kawruh, tetapi cipta sendiri belum tentu merupakan kawruh yang benar.
Seseorang dapat memiliki banyak pikiran tentang sesuatu tanpa benar-benar mengetahui sesuatu tersebut.
Contohnya seseorang belum pernah melihat laut, tetapi membaca banyak cerita tentang laut. Ciptanya dapat membentuk gambaran tentang laut.
Gambaran itu adalah hasil olah cipta.
Ketika ia kemudian melihat laut secara langsung, ia memperoleh pengalaman yang berbeda.
Karena itu, banyaknya pikiran bukan ukuran kedalaman kawruh.
Bahkan manusia dapat memiliki cipta yang sangat aktif tetapi tetap jauh dari kasunyatan.
Dalam perspektif Kawruh Sejati, manusia perlu memahami bahwa pikiran tentang sesuatu tidak otomatis sama dengan pengetahuan sejati tentang sesuatu.
Kawruh perlu diterangi oleh kejernihan cipta agar tidak berhenti sebagai kumpulan kesimpulan.
5. Bagaimana Membedakan Cipta dengan Kasunyatan?
Ini merupakan bagian yang sangat penting.
Cipta adalah apa yang dibentuk, dipikirkan, ditafsirkan, atau disimpulkan oleh manusia.
Sedangkan kasunyatan adalah apa yang sungguh-sungguh ada atau terjadi, bukan sekadar apa yang dipikirkan tentangnya.
Kita dapat mengambil contoh sederhana.
Seseorang melihat langit mendung.
Cipta berkata:
"Hari ini pasti akan hujan."
Apakah itu kasunyatan?
Belum.
Kasunyatan yang dapat diketahui saat itu adalah langit sedang mendung.
"Hari ini pasti hujan" masih merupakan kesimpulan cipta.
Demikian pula dalam kehidupan batin.
Seseorang merasa dirinya tidak dihargai.
Perasaan itu nyata sebagai pengalaman batin.
Tetapi kesimpulan "semua orang tidak menghargai saya" merupakan hasil cipta dan belum tentu kasunyatan.
Karena itu, salah satu latihan penting dalam Kawruh Kasunyatan adalah belajar memisahkan:
apa yang terjadi,
apa yang dipikirkan tentang apa yang terjadi,
dan apa yang kemudian dilakukan berdasarkan pikiran tersebut.
Semakin jelas perbedaannya, semakin mudah seseorang melihat cipta tanpa langsung diperbudak olehnya.
Di sinilah Kawruh Sejati menjadi penting: manusia diarahkan untuk tidak menjadikan hasil cipta sebagai ukuran tunggal kebenaran.
6. Bagaimana Proses Perbaikan Cipta?
Perbaikan cipta bukan berarti membuat manusia tidak boleh berpikir.
Sebaliknya, cipta perlu menjadi semakin jernih.
Prosesnya dimulai dari mengenali cipta.
Setelah mengenali, manusia belajar memeriksa cipta.
Apakah pikiran ini berdasarkan kenyataan?
Ataukah hanya dugaan?
Apakah kesimpulan ini berasal dari keadaan sekarang?
Ataukah dari pengalaman masa lalu?
Apakah saya sedang melihat kenyataan?
Ataukah saya sedang melihat keinginan saya sendiri?
Pertanyaan semacam itu membantu cipta melihat dirinya sendiri.
Dari sana, cipta mulai dilatih untuk tidak terburu-buru menyimpulkan.
Tidak semua yang muncul dalam pikiran harus dipercaya.
Tidak semua pikiran harus diikuti.
Tidak semua keinginan harus diwujudkan.
Perbaikan cipta akhirnya tidak berhenti pada perubahan cara berpikir. Cipta yang semakin jernih akan memengaruhi rasa dan karsa.
Ketika cipta tidak mudah dipenuhi prasangka, rasa menjadi lebih tenang.
Ketika rasa lebih jernih, karsa tidak mudah bergerak secara gegabah.
Karena itu, perbaikan cipta mempunyai hubungan erat dengan keseluruhan laku:
cipta dijernihkan → rasa ditata → karsa diperbaiki → laku menjadi lebih selaras.
Inilah yang menjadikan Uttamopadesa bukan sekadar pembahasan tentang pikiran, tetapi kawruh tentang tatananing panguripan.
7. Apa Tujuan Perbaikan Cipta?
Tujuan akhirnya bukan supaya manusia menjadi orang yang selalu berpikir positif.
Tujuannya juga bukan supaya manusia memiliki pikiran yang selalu menyenangkan.
Tujuan perbaikan cipta adalah agar manusia mampu melihat dengan lebih jernih dan tidak mudah menyamakan cipta dengan kasunyatan.
Cipta yang jernih membantu manusia mengenali apa yang sebenarnya sedang terjadi dalam dirinya.
Ia dapat mengetahui:
"Ini kenyataan."
"Ini pikiranku tentang kenyataan."
"Ini perasaanku."
"Ini keinginanku."
"Dan ini tindakan yang akan kulakukan."
Pembedaan tersebut tampaknya sederhana, tetapi memiliki akibat yang sangat besar.
Manusia tidak lagi begitu mudah menjadi budak pikirannya sendiri. Ia mulai mampu melihat cipta tanpa langsung mengikutinya.
Dalam Kawruh Kasunyatan, kemampuan seperti inilah yang menjadi bagian dari perjalanan menuju pemahaman yang lebih benar mengenai kehidupan.
Sedangkan dalam pandangan Kawruh Sejati, manusia diarahkan untuk semakin mengenali sumber kejernihan yang melampaui keterbatasan cipta manusia.
Maka mengenali cipta bukanlah tujuan terakhir.
Mengenali cipta adalah pintu masuk.
Dari pintu itu manusia belajar membedakan cipta dengan kawruh, cipta dengan rasa, cipta dengan karsa, dan terutama cipta dengan kasunyatan.
Ketika cipta mulai dikenali, manusia tidak lagi begitu mudah mengatakan:
"Apa yang kupikirkan pasti benar."
Ia mulai mampu mengatakan:
"Ini yang sedang dipikirkan oleh ciptaku.
Sekarang aku perlu melihat apakah itu benar-benar kasunyatan."
Di situlah perjalanan kawruh dimulai.
Dan di situlah laku Uttamopadesa menemukan salah satu maknanya: bukan mengajarkan manusia untuk berhenti berpikir, melainkan menuntun manusia agar tidak kehilangan kasunyatan karena pikirannya sendiri.
FAQ Mengenali Cipta.
1. Apa yang dimaksud dengan cipta dalam Uttamopadesa?
Cipta adalah daya batin manusia yang mengolah pengalaman, membentuk pikiran, penilaian, gambaran, dan kesimpulan mengenai sesuatu. Cipta perlu dikenali agar manusia tidak menganggap setiap pikirannya sebagai kasunyatan.
2. Mengapa cipta perlu dikenali?
Karena cipta dapat memengaruhi rasa dan karsa. Pikiran yang keliru dapat melahirkan rasa yang tidak tepat dan akhirnya mendorong tindakan yang keliru. Dengan mengenali cipta, manusia dapat memeriksa pikirannya sebelum mempercayai atau mengikutinya.
3. Bagaimana cara mengenali cipta?
Caranya dengan memperhatikan apa yang muncul dalam batin ketika menghadapi suatu peristiwa. Bedakan antara kejadian yang sebenarnya terjadi dengan pikiran atau kesimpulan yang muncul mengenai kejadian tersebut.
4. Apa perbedaan cipta dan kawruh?
Cipta adalah daya batin yang mengolah dan membentuk pengertian, sedangkan kawruh adalah pengetahuan atau pemahaman yang diperoleh mengenai sesuatu. Pikiran yang muncul dari cipta belum tentu merupakan kawruh yang benar.
5. Apa perbedaan cipta dan kasunyatan?
Cipta merupakan pikiran, tafsir, dugaan, atau kesimpulan manusia. Kasunyatan adalah kenyataan yang sungguh ada atau terjadi. Karena itu, apa yang dipikirkan belum tentu sama dengan apa yang sebenarnya terjadi.
6. Bagaimana cara memperbaiki cipta?
Perbaikan cipta dilakukan dengan mengenali, mengamati, memeriksa, dan menata pikiran. Cipta dilatih agar tidak mudah dikuasai prasangka, dugaan, keinginan, atau kesimpulan yang belum diperiksa kebenarannya.
7. Apa tujuan perbaikan cipta?
Tujuan perbaikan cipta adalah memperoleh kejernihan dalam melihat kehidupan sehingga manusia tidak mudah menyamakan pikirannya dengan kasunyatan. Cipta yang jernih membantu menata rasa, memperbaiki karsa, dan menyelaraskan laku hidup.

Komentar
Posting Komentar