MENATA CIPTA, RASA DAN KARSA

menata cipta, rasa dan karsa
Azas Utama Kawruh Uttamopadesa
(Menata Cipta, Rasa dan Karsa)

Dalam kehidupan manusia, banyak keadaan yang tidak dapat diubah sesuai dengan keinginan. Ada keadaan yang menyenangkan, ada yang tidak menyenangkan. Ada keberhasilan, kegagalan, kehilangan, perjumpaan, perubahan, serta berbagai peristiwa yang datang silih berganti.

Manusia sering kali memberikan penilaian terhadap keadaan tersebut dan kemudian menganggap bahwa keadaan di luar dirinya merupakan sumber persoalan.

Namun, tidak setiap persoalan kehidupan berasal dari keadaan itu sendiri. Sering kali persoalan muncul karena cipta, rasa, dan karsa manusia tidak berjalan selaras dengan tatanan kehidupan.

Dalam Kawruh Uttamopadesa, hal ini dirumuskan melalui sebuah seloka:

“Pasambadaning jagad nora luput; ingkang prayogi dipunwawas inggih punika cipta, rasa, saha karsa janma manusa, supados laras kaliyan tatananing panguripan.”

Artinya:

Situasi dan kondisi bukan sesuatu yang harus selalu dipersalahkan. Yang perlu ditata ulang adalah cipta, rasa, dan karsa manusia, agar dapat berjalan selaras dengan tatanan kehidupan.

Seloka tersebut menjadi salah satu dasar penting dalam memahami bagaimana manusia seharusnya menyikapi kehidupan.

Perhatian tidak semata-mata diarahkan kepada keadaan di luar diri, tetapi juga kepada apa yang berlangsung di dalam diri manusia.

Cipta, Rasa, dan Karsa sebagai Daya Kehidupan.
Cipta, rasa, dan karsa merupakan tiga daya yang berperan dalam kehidupan manusia. Ketiganya tidak berdiri sendiri. Apa yang dipikirkan, apa yang dirasakan, dan apa yang dikehendaki saling berhubungan dan kemudian dapat memengaruhi tindakan manusia.

Cipta berkaitan dengan kemampuan manusia untuk membentuk gagasan, memahami sesuatu, mempertimbangkan keadaan, dan memberikan makna terhadap pengalaman kehidupan.

Rasa berkaitan dengan penghayatan batin manusia terhadap apa yang dialami, termasuk kepekaan, ketulusan, kepedulian, dan kemampuan merasakan keadaan secara lebih jernih.

Karsa berkaitan dengan kehendak dan dorongan untuk menentukan arah serta mewujudkannya dalam tindakan.

Ketiganya menjadi penting karena kehidupan manusia tidak hanya ditentukan oleh apa yang diketahui.

Pengetahuan yang baik belum tentu menghasilkan kehidupan yang baik apabila cipta tidak jernih, rasa tidak tulus, dan karsa tidak utama.

Karena itu, Kawruh Uttamopadesa menempatkan pembentukan manusia pada keselarasan tiga daya tersebut melalui prinsip:
Weninging Cipta, Tulusing Rasa, Utamaning Karsa.

Weninging Cipta.
Weninging cipta berarti menata cipta agar jernih. Kejernihan cipta diperlukan agar manusia tidak mudah melihat kehidupan hanya berdasarkan prasangka, kepentingan, kemarahan, ketakutan, atau keinginan pribadi.

Cipta yang tidak tertata dapat membuat seseorang memberikan penilaian secara tergesa-gesa. Keadaan yang sebenarnya sederhana dapat terlihat sebagai persoalan besar karena telah terlebih dahulu dibebani oleh anggapan dan penilaian pribadi.

Menata cipta bukan berarti manusia tidak boleh memiliki pendapat. Sebaliknya, manusia tetap perlu berpikir dan menilai.

Namun, penilaian tersebut perlu dilakukan dengan kejernihan sehingga seseorang mampu membedakan antara kenyataan sejati dengan anggapan tentang kenyataan.

Weninging cipta juga menuntut kesediaan untuk mawas diri. Sebelum menyalahkan keadaan, manusia perlu melihat kembali bagaimana dirinya memahami keadaan tersebut.

Tulusing Rasa.
Setelah cipta ditata, manusia perlu menata rasa. Rasa yang tulus memungkinkan manusia melihat kehidupan tanpa terlalu dikuasai oleh kepentingan pribadi. Ketulusan bukan berarti menerima segala sesuatu tanpa pertimbangan.

Ketulusan berarti memiliki rasa yang bersih dari dorongan yang dapat mengaburkan kejernihan dalam melihat kehidupan.

Rasa dapat menjadi keruh karena iri, dengki, kebencian, kesombongan, sakit hati, kelekatan, dan berbagai kotoran batin lainnya. Ketika rasa telah dipenuhi oleh hal-hal tersebut, cipta pun dapat ikut terpengaruh. Karena itu, menata rasa merupakan bagian penting dari pembentukan diri.

Tulusing rasa juga berkaitan dengan kemampuan manusia untuk memahami bahwa setiap orang memiliki keadaan, keterbatasan, dan perjalanan kehidupannya masing-masing. Dari sini tumbuh kepedulian yang tidak didasarkan pada pamrih.

Utamaning Karsa.
Cipta yang jernih dan rasa yang tulus perlu diteruskan melalui karsa yang utama. Karsa merupakan kehendak yang mendorong manusia untuk bertindak. Oleh sebab itu, karsa tidak cukup hanya dinilai dari kuat atau lemahnya kehendak, tetapi dari arah yang dituju.

Utamaning karsa berarti mengarahkan kehendak kepada sesuatu yang baik, benar, bermanfaat, dan selaras dengan tatananing panguripan.

Manusia dapat memiliki kemampuan berpikir yang tinggi dan perasaan yang halus, tetapi apabila kehendaknya digunakan untuk merugikan kehidupan, keselarasan tersebut belum terwujud.

Karena itu, karsa menjadi penghubung antara keadaan batin dan laku nyata.

Tidak Selalu Keadaan yang Harus Diubah.
Salah satu pelajaran penting dari seloka tersebut adalah perubahan tidak selalu harus dimulai dari luar diri.

Ketika menghadapi keadaan yang tidak sesuai dengan keinginan, manusia sering kali berpikir bahwa keadaan tersebut harus segera berubah. Padahal, ada keadaan yang memang berada di luar kuasa manusia.

Tidak semua situasi dapat diatur. Tidak semua peristiwa dapat dihindari. Tidak semua orang dapat mengikuti kehendak kita.

Yang berada dalam ruang tanggung jawab manusia adalah bagaimana ia menggunakan cipta, rasa, dan karsanya dalam menghadapi keadaan tersebut.

Hal ini bukan berarti manusia harus pasif. Justru sebaliknya, manusia tetap dapat melakukan perubahan terhadap keadaan yang memang dapat diperbaiki. Namun, perubahan tersebut sebaiknya dilakukan melalui cipta yang jernih, rasa yang tulus, dan karsa yang utama.

Dengan demikian, tindakan manusia tidak semata-mata merupakan reaksi terhadap keadaan, melainkan hasil dari kesadaran yang telah tertata.

Menata Diri Sebelum Menata Kehidupan.
Menata cipta, rasa, dan karsa merupakan bentuk tanggung jawab terhadap diri sendiri.

Manusia yang tidak pernah melihat ke dalam dirinya akan mudah menemukan kesalahan di luar dirinya. Sebaliknya, manusia yang terbiasa mawas diri akan melihat bahwa setiap keadaan juga merupakan kesempatan untuk memahami dirinya sendiri.

Ketika muncul kemarahan, misalnya, persoalannya bukan hanya siapa yang menyebabkan kemarahan tersebut. Manusia juga perlu melihat bagaimana cipta menafsirkan peristiwa, bagaimana rasa menerima peristiwa tersebut, dan bagaimana karsa menentukan tindakan setelahnya.

Dari sinilah laku kehidupan menjadi penting.
Kawruh Sejati tidak berhenti hanya pada tataran pemahaman. Apa yang telah diketahui perlu diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari. Weninging cipta perlu tampak dalam cara berpikir. Tulusing rasa perlu tampak dalam cara merasakan dan memperlakukan kehidupan. Utamaning karsa perlu tampak dalam tindakan.

Keselarasan dengan Tatananing Panguripan.
Tujuan akhir dari penataan cipta, rasa, dan karsa bukanlah membuat manusia terbebas dari seluruh persoalan kehidupan. Tujuannya adalah membentuk cara menjalani kehidupan yang lebih selaras.

Tatananing panguripan dapat dipahami sebagai tatanan kehidupan yang menjadi ruang berlangsungnya kehidupan manusia. Manusia merupakan bagian dari kehidupan tersebut, bukan penguasa mutlak yang dapat menentukan seluruh keadaan sesuai kehendaknya.

Keselarasan berarti manusia mampu menempatkan dirinya secara tepat dalam kehidupan. Ia berpikir dengan jernih, merasakan dengan tulus, menghendaki sesuatu yang utama, kemudian mewujudkannya melalui laku.

Dengan demikian, perubahan yang paling mendasar bukan selalu perubahan keadaan di luar diri, melainkan perubahan cara manusia hadir di dalam kehidupan.

Dari Cipta, Rasa, dan Karsa Menuju Laku.
Cipta, rasa, dan karsa pada akhirnya harus bertemu dalam laku.

Cipta yang jernih tanpa tindakan hanya menjadi pemahaman. Rasa yang tulus tanpa tindakan hanya menjadi perasaan. Karsa yang baik tanpa tindakan hanya menjadi kehendak. Laku menjadi tempat ketiganya dibuktikan.

Manusia dapat mengetahui apa yang baik, merasakan bahwa sesuatu itu baik, dan memiliki kehendak untuk melakukannya. Namun, nilai tersebut baru memiliki arti ketika diwujudkan dalam kehidupan nyata.

Karena itu, menata cipta, rasa, dan karsa bukan sekadar latihan batin. Ia merupakan proses pembentukan kehidupan manusia secara utuh.

Azas Utama Kawruh Uttamopadesa
Dari keseluruhan pemahaman tersebut, kemudian muncul sebuah seloka:

“Pasambadaning jagad nora luput; ingkang prayogi dipunwawas inggih punika cipta, rasa, saha karsa janma manusa, supados laras kaliyan tatananing panguripan.”

yang mengandung sebuah ajaran pokok: jangan terburu-buru menjadikan keadaan sebagai sumber kesalahan. Wawaslah terlebih dahulu cipta, rasa, dan karsa dalam diri sendiri.

Bukan berarti kehidupan di luar diri selalu benar dan tidak perlu diperbaiki. Keadaan yang tidak baik tetap dapat diperbaiki apabila memang berada dalam ruang tindakan manusia.

Namun, pembenahan keadaan akan lebih bermakna apabila manusia terlebih dahulu memiliki kejernihan dalam berpikir, ketulusan dalam merasa, dan keutamaan dalam berkehendak.

Dengan demikian, Weninging Cipta, Tulusing Rasa, Utamaning Karsa bukan sekadar rangkaian kata, melainkan dasar pembentukan laku.

Manusia tidak selalu dapat memilih keadaan yang datang kepadanya. Akan tetapi, manusia dapat terus menata bagaimana ia berpikir, bagaimana ia merasakan, bagaimana ia menghendaki, dan bagaimana ia bertindak.

Di situlah letak pentingnya menata cipta, rasa, dan karsa.

Menata diri agar selaras dengan kehidupan. Menata kehidupan melalui laku yang lahir dari cipta yang wening, rasa yang tulus, dan karsa yang utama.

Penutup.
Azas Utama Kawruh Uttamopadesa mengarahkan manusia untuk tidak hanya melihat persoalan di luar dirinya, tetapi juga berani mengamati keadaan di dalam dirinya sendiri.

Kehidupan tidak selalu dapat diatur sesuai kehendak manusia, tetapi cipta, rasa, dan karsa dapat terus ditata melalui laku.

Weninging Cipta. Tulusing Rasa. Utamaning Karsa.

Dari sanalah manusia belajar menjalani kehidupan secara lebih selaras dengan tatananing panguripan.

FAQ Azas Utama Kawruh Uttamopadesa, menata Cipta, Rasa dan Karsa.
1. Apa yang dimaksud dengan menata cipta, rasa, dan karsa?
Menata cipta, rasa, dan karsa berarti membentuk kejernihan dalam berpikir, ketulusan dalam merasakan, dan keutamaan dalam menentukan kehendak agar ketiganya berjalan selaras dalam kehidupan.

2. Apakah Kawruh Uttamopadesa menganggap dunia selalu benar?
Tidak. Seloka tersebut tidak bermaksud mengatakan bahwa seluruh keadaan di dunia selalu benar. Maknanya adalah manusia tidak seharusnya selalu menjadikan keadaan sebagai sumber kesalahan sebelum melihat dan menata dirinya sendiri.

3. Mengapa cipta, rasa, dan karsa harus selaras?
Karena ketiganya saling berkaitan. Cipta memberikan arah pemahaman, rasa memberikan penghayatan, sedangkan karsa mendorong manusia untuk bertindak. Ketidakselarasan ketiganya dapat memengaruhi laku kehidupan.

4. Apa hubungan Weninging Cipta, Tulusing Rasa, dan Utamaning Karsa dengan laku?
Ketiganya merupakan dasar pembentukan laku. Cipta yang wening, rasa yang tulus, dan karsa yang utama perlu diwujudkan dalam tindakan nyata sehingga kawruh tidak berhenti sebagai pemahaman.

5. Apa tujuan menata cipta, rasa, dan karsa?
Tujuannya adalah agar manusia mampu menjalani kehidupan dengan lebih jernih, tulus, dan utama serta mampu menempatkan dirinya secara selaras dengan tatananing panguripan.

6. Apakah menata diri berarti harus pasrah terhadap keadaan?
Tidak. Menata diri bukan berarti pasif. Manusia tetap dapat memperbaiki keadaan yang memang dapat diubah. Penataan cipta, rasa, dan karsa justru menjadi dasar agar perubahan dilakukan dengan lebih jernih dan bertanggung jawab.

Komentar