Samadhi dalam Kawruh Uttamopadesa perlu dipahami secara tepat agar tidak disempitkan menjadi semedi, duduk diam, atau pencapaian keadaan batin tertentu.
Samadhi merupakan bagian dari laku kesadaran yang berkaitan dengan kejernihan batin dan kemampuan manusia untuk menyadari panguripan tanpa dikuasai oleh keruwetan cipta, gejolak rasa, maupun dorongan keinginan yang liar.
Samadhi bukan tujuan untuk memperoleh pengalaman luar biasa. Nilainya justru terletak pada perubahan kualitas batin dan bagaimana perubahan tersebut diwujudkan dalam kehidupan.
Oleh karena itu, Samadhi perlu dipahami melalui beberapa prinsip yang saling berhubungan, berikut ini :
1. Samadhi adalah keadaan kesadaran yang wening.
Samadhi merupakan keadaan kesadaran yang jernih, tenang, dan tidak dikuasai oleh keruwetan cipta, gejolak rasa, maupun dorongan keinginan yang liar.
Dalam keadaan ini, kesadaran tidak kehilangan kejernihannya dan mampu menyadari panguripan tanpa dikaburkan oleh kepentingan diri.
Weninging Cipta menjadi dasar penting dalam keadaan Samadhi, tetapi Samadhi tidak hanya menyangkut cipta. Samadhi melibatkan keseluruhan keadaan batin sehingga Cipta, Rasa, dan Karsa dapat berada dalam keselarasan.
Karena itu, Samadhi bukan keadaan ketika manusia berhenti sadar. Sebaliknya, Samadhi merupakan keadaan ketika kesadaran menjadi semakin jernih dan tidak mudah terseret oleh berbagai gerak batin yang mengaburkannya.
2. Samadhi bukan sekadar semedi atau diam.
Samadhi tidak ditentukan oleh posisi tubuh, tempat tertentu, suasana sunyi, maupun lamanya seseorang duduk dalam keheningan. Semedi dapat menjadi salah satu cara untuk melatih ketenangan dan kejernihan, tetapi semedi itu sendiri tidak otomatis berarti Samadhi.
Seseorang dapat duduk diam tetapi cipta masih dipenuhi kekhawatiran, karep, angan-angan, atau pamrih. Sebaliknya, keadaan Samadhi dapat menjadi dasar kesadaran yang tetap terjaga ketika seseorang menjalani aktivitas kehidupan.
Dengan demikian, ukuran Samadhi bukan semata-mata keadaan lahiriah, melainkan keadaan kesadaran dan kualitas batin yang menyertainya.
3. Samadhi menyelaraskan Cipta, Rasa, dan Karsa.
Samadhi tidak hanya berhubungan dengan ketenangan pikiran. Dalam Kawruh Uttamopadesa, kehidupan batin manusia mencakup Cipta, Rasa, dan Karsa yang merupakan satu kesatuan.
Cipta yang wening memungkinkan manusia melihat dan memahami dengan lebih jernih.
Rasa yang tulus memungkinkan manusia menghayati makna panguripan tanpa dikuasai oleh kepentingan diri.
Karsa yang utama mengarahkan kehendak kepada sesuatu yang benar dan utama.
Karena itu, Samadhi tidak cukup hanya menghasilkan pikiran yang tenang. Kejernihan tersebut perlu menyentuh rasa dan kehendak sehingga terbentuk keselarasan antara apa yang dipahami, apa yang dirasakan, dan apa yang dilakukan.
4. Samadhi membebaskan kesadaran dari penguasaan keinginan yang liar.
Salah satu penghalang kejernihan batin adalah keinginan yang tidak terkendali (karep). Karep dapat membuat manusia melihat sesuatu bukan sebagaimana adanya, melainkan sebagaimana yang diinginkannya.
Dalam Samadhi, kesadaran tidak dibiarkan dikuasai oleh ambisi, keinginan, ketakutan, kemarahan, pamrih, maupun kepentingan pribadi. Bukan berarti manusia harus kehilangan kehendak. Yang berubah adalah dasar dari kehendak tersebut.
Karsa yang semula mudah dipengaruhi oleh karep diarahkan menjadi Karsa Utama atau Karsa Sejati. Dengan demikian, kejernihan Samadhi tidak menghasilkan kepasifan, tetapi melahirkan kehendak yang lebih sadar dan utama.
5. Samadhi adalah eling marang kasunyatan.
Samadhi memiliki hubungan erat dengan eling. Eling bukan sekadar mengingat suatu ajaran atau mengucapkan suatu nama, melainkan keadaan kesadaran yang tidak kehilangan hubungan dengan kasunyatan.
Manusia sering melihat kehidupan melalui keinginan, prasangka, ingatan, penilaian, dan kepentingannya sendiri. Akibatnya, apa yang dipahami sebagai kenyataan dapat tercampur dengan ciptaan pikirannya sendiri.
Samadhi membantu manusia mengendapkan keruwetan tersebut sehingga kesadaran dapat melihat dengan lebih jernih. Oleh karena itu, Samadhi bukan pelarian dari kenyataan, melainkan jalan untuk semakin sadar terhadap kenyataan.
6. Samadhi tidak diukur dari pengalaman luar biasa.
Pengalaman batin yang kuat bukan ukuran utama Samadhi. Sensasi tertentu, rasa ringan atau berat pada tubuh, keadaan emosional yang mendalam, penglihatan batin, maupun pengalaman yang dianggap luar biasa tidak dengan sendirinya menunjukkan kedalaman Samadhi.
Pengalaman dapat muncul dalam proses latihan, tetapi pengalaman bukan tujuan. Jika manusia justru mengejar pengalaman tersebut, maka kesadaran dapat kembali dikuasai oleh karep dan keinginan pribadi.
Ukuran yang lebih penting adalah apakah kesadaran menjadi semakin wening, rasa semakin tulus, karsa semakin utama, serta perilaku kehidupan menjadi semakin selaras dengan kasunyatan.
7. Samadhi membuka jalan bagi pepadhang Kawruh Sejati.
Samadhi tidak digunakan untuk menciptakan kebenaran berdasarkan kehendak manusia. Kejernihan batin diperlukan agar manusia tidak mudah mencampurkan Kawruh Sejati dengan angan-angan, pendapat, atau pengalaman pribadinya.
Dalam keadaan batin yang lebih wening, manusia memiliki kemampuan untuk menerima dan memahami pepadhang dengan lebih jernih. Karena itu, Samadhi mempunyai hubungan dengan Kawruh Sejati, tetapi Samadhi tidak boleh disamakan dengan Kawruh Sejati.
Kawruh Sejati merupakan pepadhang, sedangkan Samadhi merupakan bagian dari laku kesadaran manusia dalam membuka kejernihan batinnya.
Pembedaan ini penting agar Samadhi tidak berubah menjadi pencarian pengalaman yang kemudian dianggap sebagai kebenaran sejati.
8. Samadhi harus terbukti dalam laku kehidupan.
Samadhi tidak berhenti ketika seseorang keluar dari keadaan hening. Jika setelahnya cipta kembali dikuasai kebencian, rasa kembali dipenuhi pamrih, dan karsa kembali dikendalikan oleh kepentingan diri, maka pengalaman keheningan tersebut belum memberikan perubahan yang berarti dalam laku.
Karena itu, Samadhi perlu dibawa ke dalam kehidupan sehari-hari. Wujudnya dapat terlihat dalam cara manusia berpikir, merasakan, berbicara, mengambil keputusan, memperlakukan sesama, menghadapi persoalan, serta mengendalikan dirinya.
Dengan demikian, Samadhi bukan sesuatu yang terpisah dari kehidupan. Keheningan batin justru diuji melalui kehidupan nyata.
9. Samadhi mengarah kepada kesadaran akan Sang Sumbering Panguripan.
Arah terdalam Samadhi bukan memperoleh kesaktian, pengalaman gaib, kedudukan batin tertentu, atau melarikan diri dari kehidupan.
Samadhi mengarahkan manusia kepada kesadaran yang semakin jernih mengenai panguripan dan asal-muasal keberadaannya.
Melalui kejernihan tersebut, manusia diarahkan untuk semakin menyadari hubungan dirinya dengan Sang Sumbering Panguripan.
Kesadaran itu kemudian tidak berhenti sebagai pemahaman, tetapi diwujudkan melalui laku kehidupan yang selaras dengan Cipta, Rasa, dan Karsa yang utama.
Dengan demikian, Samadhi menjadi bagian dari perjalanan menuju wangsul marang Sang Sumbering Panguripan; bukan sekadar meninggalkan dunia, melainkan menjalani kehidupan dengan kesadaran yang semakin wening, rasa yang semakin tulus, dan karsa yang semakin utama.
Penutup.
Sembilan prinsip tersebut di atas menunjukkan bahwa Samadhi dalam Kawruh Uttamopadesa bukan sekadar teknik untuk mencapai ketenangan. Samadhi merupakan keadaan kesadaran yang wening, yang kemudian membawa keselarasan Cipta, Rasa, dan Karsa serta membebaskan kesadaran dari penguasaan keinginan.
Samadhi juga bukan tujuan untuk mendapatkan pengalaman luar biasa. Nilainya justru dapat dikenali melalui perubahan nyata dalam laku kehidupan.
Semakin wening kesadaran seseorang, semakin tulus rasanya, semakin utama karsanya, dan semakin mampu ia menjalani kehidupan tanpa kehilangan eling marang kasunyatan.
Dengan pemahaman demikian, Samadhi menjadi bagian dari laku menuju kehidupan yang lebih sadar dan pada akhirnya mengarah kepada wangsul marang Sang Sumbering Panguripan.
FAQ - Samadhi Dalam Kawruh Uttamopadesa.
1. Apa yang dimaksud Samadhi dalam Kawruh Uttamopadesa?
Samadhi adalah keadaan kesadaran yang wening, jernih, dan tidak dikuasai oleh keruwetan cipta, gejolak rasa, maupun karep. Samadhi berkaitan dengan keselarasan Cipta, Rasa, dan Karsa.
2. Apakah Samadhi sama dengan semedi?
Tidak. Semedi merupakan bentuk laku atau cara untuk melatih keheningan batin, sedangkan Samadhi menunjuk pada keadaan kesadaran yang wening. Semedi tidak otomatis menghasilkan Samadhi.
3. Apakah Samadhi harus dilakukan dengan duduk diam?
Tidak. Sikap tubuh dan tempat tertentu bukan ukuran utama Samadhi. Yang utama adalah keadaan kesadaran. Karena itu, kejernihan kesadaran perlu tetap dapat diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari.
4. Apakah pengalaman gaib merupakan tanda Samadhi?
Tidak. Pengalaman batin, sensasi tertentu, atau pengalaman yang dianggap luar biasa bukan ukuran utama Samadhi. Ukurannya adalah semakin weningnya kesadaran serta perubahan Cipta, Rasa, dan Karsa dalam laku.
5. Apa hubungan Samadhi dengan Kawruh Sejati?
Samadhi merupakan laku kesadaran untuk mencapai kejernihan batin, sedangkan Kawruh Sejati merupakan pepadhang. Samadhi tidak menciptakan Kawruh Sejati, tetapi kejernihan batin membantu manusia menerima dan memahami pepadhang dengan lebih jernih.
6. Apa tujuan terdalam Samadhi?
Tujuan terdalam Samadhi adalah membawa manusia kepada kesadaran yang semakin wening terhadap kasunyatan dan Sang Sumbering Panguripan, yang kemudian diwujudkan dalam laku kehidupan melalui Weninging Cipta, Tulusing Rasa, dan Utamaning Karsa.

Komentar
Posting Komentar